Page

Selasa, 17 Mei 2011

Waisak: Meneladani Buddha Melalui Tiga Peristiwa

Hari ini, seluruh umat Buddha di dunia akan memperingati hari Tri Suci Waisak, dimana tahun ini kita di Indonesia memperingatinya pada tanggal 17 Mei 2011. Banyak dari kita sebagai umat Buddha hanya sekedar memperingati hari Waisak saja, tanpa mencoba memahami makna sebenarnya dari peringatan hari Tri Suci Waisak, demikian juga halnya dengan saya. Seumur hidup saya tidak pernah mencoba untuk memahami apa makna hari Waisak yang sesungguhnya. Bagi saya Waisak sekedar merupakan hari raya umat Buddha, dan karena saya termasuk umat Buddha, jadi saya juga memperingatinya.

Tetapi tahun ini ada yang berbeda, buat saya tahun ini penuh dengan perenungan, entahlah apakah karena usia saya yang sudah hampir memasuki kepala tiga sehingga membawa saya kepada kematangan, atau juga karena belakangan saya mulai mendalami Dhamma dengan lebih serius. Ini membuat saya jadi memikirkan makna Waisak yang sesungguhnya bagi kita umat Buddha, dan buat saya pribadi khususnya.

Kita semua tahu, Waisak memperingati tiga peristiwa penting: 

Kelahiran Pangeran Siddharta, Pencapaian Pencerahan Sempurna (Menjadi Buddha), serta Buddha Parinibbana (Kematian). Cukup lama saya mencoba merenungi ketiga hal ini dalam kaitannya dengan peringatan hari Waisak. Dan apa yang tertuang di sini adalah hasil perenungan saya yang mendalam mengenai makna Waisak untuk kita saat ini.


Kelahiran Pangeran Siddharta
Peristiwa pertama yang kita peringati adalah kelahiran Pangeran Siddharta, seorang calon Buddha. Merupakan suatu peristiwa yang luar biasa bahwa telah lahir seorang calon Buddha di dunia ini, dan tentunya hal ini patut kita kenang. Tetapi lebih dari sekedar mengenang kelahiran dari Pangeran Siddharta, saya justru menemukan bahwa makna yang sesungguhnya adalah lebih kepada proses kelahiran itu sendiri. Kita semua ada dan hidup di bumi ini karena kita dilahirkan, dan kita tahu bahwa selama masih ada kelahiran, berarti kita masih terjebak dalam samsara. Seharusnya kita berusaha untuk tidak terlahir kembali, seperti yang telah ditunjukkan oleh Buddha sendiri. Tetapi disamping itu, kita juga patut mensyukuri kelahiran kita sebagai manusia, yang sulit terjadi. Dengan kelahiran sebagai manusia berarti kita berkesempatan untuk mencapai pembebasan sejati, dan untuk itu kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada ini.

Pencapaian Pencerahan Sempurna
Peristiwa kedua yang kita peringati adalah bagaimana Pangeran Siddharta menjadi Buddha. Pangeran Siddharta merasakan ketidakpuasan dalam hidup ini, mengapa orang bisa menderita sakit, mengapa orang bisa menjadi tua, mengapa orang akan berakhir dengan kematian, sampai beliau menyadari bahwa semua manusia memang akan mengalami yang namanya kelahiran, menjadi tua, menderita sakit dan akhirnya akan mati. Saat melihat seorang petapa, beliau jadi bertekad untuk menemukan jalan pembebasan dari penderitaan itu. Bukanlah sesuatu yang mudah untuk bisa memperoleh hal tersebut, bahkan cara yang ekstrim sekalipun pernah dijalani oleh Pangeran Siddharta. Apa yang telah dilalui oleh Pangeran Siddharta dalam mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha adalah sebuah proses. Mulai dari berguru pada satu guru ke guru yang lain, dan mengalami banyak rintangan, sampai akhirnya semua berhasil dilalui dan menjadi Buddha (yang ‘Sadar’). Ini adalah suatu peristiwa yang sangat penting bagi kita manusia, karena dengan ‘kesadaran’ yang diperoleh-Nya, kita semua dapat mengetahui jalan untuk membebaskan diri dari samsara.

Bagi saya, makna dari pencapaian pencerahan sempurna ini adalah pada ‘tindakan’ yang telah diambil oleh Pangeran Siddharta, dan pada proses dalam usaha pencapaian itu sendiri. Pangeran Siddharta dilimpahi dengan segala kemewahan sebagai seorang putra raja, namun beliau dengan tekad yang kuat untuk membebaskan manusia dari penderitaan duniawi dan menemukan kebahagiaan sejati, telah mengambil ‘langkah besar’ dengan meninggalkan semua yang beliau miliki.

Begitu pula dalam kehidupan kita saat ini, sebenarnya kita cukup beruntung karena Buddha sudah menunjukkan jalan, tidak harus kita cari sendiri. Masalahnya, apakah kita akan ‘bertindak’ dan mengambil ‘langkah’ untuk berjalan di jalan yang sudah ditunjukkan-Nya? Kebanyakan kita sudah mengetahui jalan yang ditunjukkan oleh Buddha, tetapi sudahkah kita menjalaninya? Dan seperti halnya Buddha, butuh proses yang panjang, halangan dan rintangan dalam mencapainya, begitu juga yang akan kita alami. Meskipun sulit, Pangeran Siddharta tetap tidak menyerah sehingga dapat berhasil, lalu bagaimana dengan kita? Mampukah kita bertahan dan berjuang terus untuk mencapainya, dengan segala kesulitan yang ada?

Parinibbana (Kematian)
Peristiwa terakhir yang kita peringati di hari Waisak adalah peristiwa wafat (parinibbana) Buddha. Mengapa Buddha harus wafat? Karena memang seharusnya seperti itu, karena setiap manusia akan mengalami kematian. Jika Buddha tidak wafat, justru akan mematahkan apa yang sudah diajarkan oleh-Nya sendiri, bahwa segala yang terkondisi adalah tidak kekal (anicca).

Bagi saya, peristiwa ini memiliki makna yang tak kalah pentingnya dibandingkan kedua peristiwa lainnya. Kematian adalah hal yang pasti, itu yang harus kita sadari. Selama ada kelahiran, kematian sudah menanti. Moment Parinibbana Buddha harusnya menyadarkan kita bahwa hidup ini anicca, bahkan seorang Buddha sekalipun tidak dapat lari dari kenyataan ini. Dengan demikian, memaknai peristiwa ini, hendaknya kita menyadari bahwa kematian bisa kapan saja menghampiri kita, dan itu adalah pasti. Sekarang bagaimana kita bisa siap menghadapinya dengan bekal ‘jalan’ yang sudah ditunjukkan oleh Buddha?

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan dari perenungan saya, setiap tahun kita memang memperingati Waisak sebagai tiga peristiwa penting yang sudah dilalui oleh guru junjungan kita, Buddha. Tetapi lebih dari pada itu, makna Waisak yang sesungguhnya buat saya adalah menyadari bahwa saya dan juga banyak makhluk lainnya masih belum terbebas dari siklus kelahiran dan kematian, sementara jalan pembebasan sudah ditemukan. Saya cukup beruntung untuk terlahir sebagai manusia dan dapat mengenal Dhamma ajaran Buddha, tetapi sudahkah saya mengambil ‘tindakan’ dan melangkah di jalan yang akan membebaskan saya dari siklus itu?

Dengan makna yang seperti ini, bagi saya setiap detik adalah peringatan Waisak, karena setiap detik pula saya seharusnya menyadari atas kelahiran, kematian dan jalan pembebasan yang harus saya tempuh.

Selamat Hari Waisak 2555,
Semoga Tri Suci Waisak mengingatkan kita semua untuk senantiasa meneladani Buddha melalui tiga peristiwa, sehingga bisa mencapai kebahagiaan sejati….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...