Page

Selasa, 17 Mei 2011

Melongok Ketegangan di Rumah "Big Brother" Trans TV

MINGGU demi minggu ketegangan di rumah "BigBrother" makin meningkat. Perubahan sifat dan sikap dari para peserta makin sulit diterka. Dikurung dalam sebuah rumah tanpa bisa berkomunikasi dengan dunia luar berminggu-minggu makin memicu kejenuhan.

Selasa (3/5) kemarin, Trans TV mengundang puluhan wartawan hiburan untuk melihat dari dekat bagaimana rumah Big Brother lengkap dengan polah-tingkah para penghuninya yang disebutnya sebagai house-mate.
Untuk mendekati markas "Big Brother" yang terletak di samping gedung Bank Mega itu, para undangan harus melalui beberapa kali pemeriksaan. Terakhir sebelum masuk, semua harus mengenakan pakaian serba hitam. Sepatu harus dilepas dan harus mengenakan sandal tipis mirip yang dikenakan di hotel-hotel.

"Semua ini agar para peserta tidak melihat, nggak kaget, apalagi terusik," kata Erni Muryani, produser eksekutif Big Brother.

Memasuki lorong terakhir, sekeliling rumah Big Brother tampak begitu gelap. Wartawan bisa melihat dari dekat bagaimana gerak-gerik para house-mate itu dari jarak dekat, namun para penghuni tidak ada yang tahu, karena memang tidak bisa melihat.

"Kaca jendela pengintai ini dibuat rangkap. Sekeliling juga dibuat kedap suara, ini memungkinkan penghuni hanya bisa diawasi, tapi tidak bisa melihat keluar," kata seorang pemandu Big Brother.

Melihat peserta Big Brother kita seperti melihat ikan-ikan di akuarium raksasa Sea Word. Bedanya kalau di akuarium ikannya bisa melihat manusia yang menyaksikan, nah di sini mereka sama sekali tak melihat, apalagi mendengar apa yang terjadi di luar.

"Interaksi yang terjadi ya hanya yang ada di dalam rumah Big Brother saja. Mereka mau saling marah, saling ribut, bahkan jatuh cinta ya di antara sesama penghuni," kata A. Hadiansyah Lubis, Marketing PR Manajer Trans TV.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana memenuhi kebutuhan makan dan keperluan aktivitas mereka?

"Semua kita siapkan. Tapi, hanya lewat pesanan dengan koin uang yang kita sediakan," kata Erni, dari Trans TV.

Petugas Ikut Jenuh

Ketegangan dan kejenuhan bukan saja melanda peserta, tapi juga para kru. Mulai dari petugas keamanan sampai editing dan ruang monitor. Di ruang kontrol yang terdiri atas belasan monitor misalnya, mereka tiap hari ikut memantau apa saja yang dilakukan para peserta.

Karena dari kegiatan sehari hanya diambil sepotong sepotong, hal ini kadang menyulitkan bagian editing untuk memadatkan jadi paket program tayangan berdurasi satu jam. Padahal, terkadang sebagian ulah peserta menarik dan layak diketengahkan kepada pemirsa.

Tidak berinteraksi dengan dunia luar baik melalui handphone, televisi, atau yang lain membuat mereka makin menunjukkan watak aslinya, atau bahkan makin menyimpang dari biasanya. Ke depan sulit diterka siapa yang bakal jadi pemenang dan merebut hadiah ratusan juta, bahkan miliaran rupiah ini.

Saat ini, Big Brother sudah mendeportasi lebih dari 10 peserta. Pekan ini peserta masih 13, tapi di akhir pekan ini kita tidak tahu siapa yang bakal kena deportasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...