Page

Kamis, 28 April 2011

Rumah Makan Tua di Medan : Sup Bihun Ikan sejak 1919

Kekayaan Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, yang jarang terungkap adalah keberadaan rumah makan, restoran, hingga kedai yang sudah berumur puluhan tahun. Di samping Istana Maimoen, Rumah Tjong A Fie, dan juga menara air, kehadiran rumah makan tua menjadi penanda kota di pantai timur Sumatera itu.

Secara tidak sengaja, ketika berjalan menyusuri sejumlah lorong di Kota Medan, penulis menemukan sejumlah rumah makan tua. Setidaknya ada yang berangka tahun 1919 hingga 1934. Sayang jejak sejarah kuliner yang masih hidup hingga tiga generasi ini kurang terangkat.

Lorong menuju Jalan Yoserizal di Kota Medan pada tengah malam sangat gelap karena minim penerangan. Untuk menjangkau jalan itu bagi mereka yang baru datang tidaklah mudah. Akan tetapi, kalau kita bertanya letak rumah makan sup bihun ikan kepada orang di sekitar tempat itu, dengan mudah mereka akan menunjukkan Jalan Yoserizal.


”Menu sup bihun ikan ini sudah ada sejak 1919, sama seperti bangunan rumah ini yang didirikan oleh kakek saya,” kata pemilik Juhong Coffee Shop, Bambang Effendy, yang mengelola rumah makan sup bihun ikan itu. Meski terkenal dengan sup bihun ikan, rumah makan ini menyediakan berbagai makanan seperti sate padang.

Rumah makan ini unik. Pemilik rumah makan menyediakan tempat dan minuman, sementara sejumlah pedagang lain yang berada di depan rumah makan memasok berbagai jenis makanan itu. Di rumah makan ini ada sekitar enam pedagang yang menjual berbagai jenis makanan.

Keunikan rumah makan ini dan juga rumah makan sejenis di Medan adalah keberadaan sate padang sebagai salah satu makanan di samping berbagai jenis makanan yang umumnya merupakan makanan China. Keberadaan sate padang juga bisa ditemukan di kawasan kuliner malam hari di Jalan Semarang. Kombinasi yang unik antara menu orang Minang dan menu orang Tionghoa.

Salah satu peninggalan rumah makan ini yang masih ada adalah bangunan rumah makan yang meski di lantai satu sudah banyak berubah dengan dinding dari marmer, namun di lantai dua masih terlihat keasliannya. Jendela-jendela masih asli seperti yang dibangun oleh kakeknya.

”Dinding terpaksa dikasih marmer karena air kadang meresap hingga membasahi dinding,” kata Bambang ketika ditanya soal perubahan bangunan yang tampak menjadi ”modern” itu.

Sekretaris Badan Warisan Sumatera Rika Susanto menyebutkan, bangunan rumah makan seperti itu dan juga bangunan kawasan dagang lama berarsitektur campuran antara China, Melayu, dan kolonial campuran.

”Sentuhan China terletak pada jendela seperti yang terlihat di Malaka dan Penang. Sentuhan Melayu pada ornamen dan sentuhan kolonial pada kehadiran lengkung dan gaya renaisans yang terletak pada beberapa bagian,” katanya.

Selain bangunan itu, keberadaan salah satu gerobak yang menyediakan salah satu menu makanan di tempat itu juga masih sama dengan gerobak yang digunakan sejak pendahulu mereka pada tahun 1919. Hanya beberapa bagian gerobak itu yang sudah direnovasi agar masih kuat menopang beban.

Bila merunut pada tahun didirikannya, rumah makan, lebih tepat kedai kopi, yang lebih muda adalah Kedai Kopi Kok Tong yang didirikan sejak 1925. Kedai kopi ini menjadi sangat legendaris di Kota Medan meski didirikan di Kota Pematang Siantar, sekitar tiga jam berkendaraan ke arah selatan Kota Medan.

Kedai kopi itu bahkan mengalahkan keramaian kafe-kafe modern dan internasional pada malam Minggu. Kedai Kopi Kok Tong telah berevolusi dari kedai kopi kecil yang ada di pinggir jalan menjadi kedai kopi yang memasuki mal-mal di Kota Medan.

Mal

Meski memasuki mal, para pencinta kuliner tak perlu mengeluarkan uang berlebihan karena kedai kopi ini tetap menyajikan menu lokal yang khas, seperti ubi goreng, sukun goreng, dan pisang goreng. Tentu saja menu utamanya adalah kopi kental khas Medan.

Rumah makan berikutnya yang lebih muda adalah rumah makan Hock Seng di kawasan Kesawan. Rumah makan yang khusus menyediakan menu makanan China ini berdiri tahun 1932. Kini masih dipegang oleh generasi kedua, tetapi anak-anaknya juga mulai memegang kendali usaha ini.

”Mereka sudah mulai menangani langsung pembuatan dan pelayanan makanan,” kata Simon, pemilik rumah makan yang merupakan generasi kedua. Kini ia juga membuka cabang di Muara Karang, Jakarta. Rumah makan yang berada di Muara Karang ini juga sudah dipasrahkan kepada salah satu anaknya yang lain.

Berbeda dengan rumah makan sup bihun ikan di Jalan Yoserizal, rumah makan ini sudah berpindah-pindah. Rumah makan yang berada di Jalan Achmad Yani (dulu bernama Jalan Kumango) ini merupakan lokasi yang ketiga setelah sebelumnya berada di Jalan Bawean dan Jalan Bangka.

Di samping nama-nama rumah makan itu, Restoran Tip Top merupakan restoran yang banyak dikenal, baik bagi orang Medan maupun orang luar kota. Restoran yang berada di kawasan Kesawan, sebuah kawasan bisnis masa lalu, itu menjual berbagai masakan yang cenderung berselera Eropa meski menyediakan juga menu China dan lokal. Sangat wajar karena restoran yang didirikan pada tahun 1934 itu memang pada awalnya melayani pebisnis-pebisnis Eropa.

Menjadi sangat menarik adalah menerawang situasi masa-masa ketika rumah makan, kedai, dan restoran itu didirikan. Pada masa itu adalah masa-masa awal ketika usaha perkebunan mulai stabil berdiri di sekitar Medan. Stabilitas itu ditandai dengan berdirinya Kota Praja Medan pada tahun 1909.

Otomatis pada saat itu berbagai urusan berpusat di Kota Medan, sebagai kota besar di pantai timur Sumatera. Sebagai kota besar, kota ini menjadi tempat berkumpulnya pebisnis perkebunan dan juga tempat untuk beristirahat.

Fasilitas

Berbagai fasilitas tentu harus didirikan untuk orang Eropa, Melayu, Tionghoa, Jawa, dan lain-lain, seperti hotel, bank, dan rumah makan.

Meski tidak ada stratifikasi yang jelas, pada masa lalu kehadiran rumah makan bisa dibedakan di tiga kawasan, yaitu kawasan bisnis kelas atas, kawasan bisnis kelas menengah, dan kawasan bisnis kelas bawah.

Kawasan bisnis kelas atas terletak di kawasan Kesawan dan sekitarnya. Untuk kawasan menengah terletak di beberapa tempat seperti Jalan Semarang, Jalan Cirebon, dan sekitarnya. Kawasan kelas bawah terletak di pasar-pasar tradisional yang sekarang masih ada di Kota Medan.

Keberadaan rumah makan di Kota Medan sudah selayaknya diangkat sebagai identitas kota itu. Medan akan makin molek kalau rumah makan seperti itu makin dikenal di kalangan luas. Akhirnya, jadilah Medan termasuk sebagai kota tujuan wisata, bukan lagi dikenal sebagai kota yang dipenuhi dengan kekerasan seperti dikenal oleh orang luar selama ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...