Page

Jumat, 18 Maret 2011

Para Ahli Terus Berusaha Mengatasi Radiasi Nuklir Jepang

Tokyo - Kepulan asap terlihat dari PLTN pada Jumat di Jepang, saat pekerja sedang berusaha untuk menyambungkan kembali aliran listrik di sistem pendingin dan sedang menyemburkan air untuk mendinginkan bahan bakar nuklir di PLTN yang terkena tsunami.

Para insinyur di Jepang bekerja keras untuk mencegah bencana yang dihasilkan dari radiasi, akibat terbakar dan meledaknya PLTN di utara Jepang. Namun, menurut pihak Amerika Serikat membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mendinginkan fasilitas nuklir tersebut.

Juru bicara agensi nuklir Jepang, mengakui “solusi Chernobyl” dengan mengubur reaktor dengan pasir sudah ada dalam pikiran pihak yang berwenang. Bencana nuklir di Jepang, adalah kondisi yang terburuk sejak bencana nuklir Chernobyl di Ukraina, 25 tahun lalu, yang membuat peringatan dan peninjauan kembali keamanan dari PLTN di seluruh dunia.


Menurut laporan resmi di Jepang, pihak Jepang berharap mampu memperbaiki kabel listrik setidaknya dua dari enam reaktor yang sedang bermasalah. Pihak Jepang, berharap dengan kembali bekerjanya pompa air di PLTN Fukushima dapat menahan keenam reaktor dari kehancuran.

Walau para insinyur mencoba untuk menyambungkan listrik ke PLTN Fukushima Dai-ichi, masih belum jelas apakah pompa air tersebut dapat bekerja seperti biasa atau tidak.

Juru bicara agensi nuklir, Hidehiko Nishiyama mengatakan masih belum jelas seberapa efektif menyemburkan air melalui helikopter pada Kamis lalu. Saat ini prioritasnya adalah bagaimana memperoleh air ke kolam bahan bakar di PLTN. “Kita harus mengurangi panas dan mungkin menggunakan air laut,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (18/3). “Kita harus segara menghidupkan kembali reaktor, oleh karena itu kita mencoba mengembalikan listrik ke reaktor.”

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, mengumumkan telah memerintah otoritas di negaranya untuk melakukan peninjauan kembali PLTN di Amerika Serikat dan berjanji akan membantu permasalahan di Jepang. Obama berharap radiasi tidak sampai ke garis pantai negara Paman Sam.

“Dalam beberapa hari mendatang, kita akan meneruskan melakukan apa saja yang kita mampu untuk menjamin keamanan dari rakyat Amerika Serikat, dan keamanan dari sumber energi kita,” ujarnya. “Dan kita akan berdiri bersama dengan rakyat Jepang dalam menghadapi krisis, bangkit dari kesulitan, dan membangun kembali kejayaan negara mereka.”

Kepala International Atomic Energy Agency (IAEA), yang berbasis di Vienna, bersama tim internasional berangkat ke Jepang untuk mengetahui informasi terkini di Jepang. Sementara itu, ajudan senior dari IAEA, Graham Andrew, menyebut situasi PLTN di Jepang “cukup stabil”. Namun pemerintah Jepang mengatakan asap putih masih muncul dari tiga reaktor dan helikopter digunakan untuk memadamkan api di PLTN, untuk meminimalisir radiasi.

“Situasi masih sangat serius, namun tidak terlihat lebih memburuk sejak kemarin,” ujar Andrew. Menurut agensi nuklir, level radiasi di PLTN setinggi 20 millsieverts per jam. Batas untuk para pekerja adalah 100 per jam.

Jutaan penduduk di Tokyo tetap berada dalam ruangan mereka pada hari Jumat. Mereka ketakutan akan radiasi radioaktif dari komplek PLTN sejauh 240 kilometer di utara Tokyo, mereka juga khawatir angin akan membawa gas atau asap yang telah terkontaminasi ke kota mereka.

Paling buruk, radiasi di Tokyo mencapai 0,809 microsieverts per jam minggu ini, hal ini 10 kali di bawah standar seseorang dapat terpengaruh melalui radiasi. Pada Kamis, level radiasi berada di bawah rata-rata.

Pemerintah Jepang telah memperingatkan 13 juta warga Tokyo pada Kamis untuk bersiap-siap dengan pemadaman listrik berskala besar, namun hal tersebut tidak terjadi. Sementara itu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tokyo, mendesak warganya yang tinggal 80 kilometer dari PLTN Dai-ichi untuk dievakuasi atau tetap berada dalam rumah, sementara itu Kedutaan Inggris menyarankan warganya untuk meninggalkan area tersebut.

Negara-negara lain telah menyarankan warganya yang berada di Jepang untuk meninggalkan Jepang atau pindah ke daerah selatan Jepang.

Pemerintah Jepang mengatakan setiap orang yang tinggal dalam radius 20 km untuk dievakuasi dan menyarankan warganya yang berada di radius 30 km untuk tetap berada dalam ruangan.

Menurut Tohuku Electric Power, sekitar 30 ribu kepala keluarga di utara Jepang masih hidup tanpa listrik dalam kondisi cuaca yang memburuk. Menurut pemerintah Jepang, setidaknya 1,6 juta kepala keluarga kekurangan air bersih. Kepolisian Jepang mengatakan pada Jumat, telah mengkonfirmasi 5.692 korban yang tewas akibat gempa dan tsunami, sementara itu 9.522 orang di enam Prefektur masih dinyatakan hilang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...