Page

Minggu, 20 Maret 2011

Bagaimana Masa Depan Tweet Berbayar?

Beberapa hari ini, garis waktuku (timeline) berseliweran tweet-tweet dari beberapa orang yang isinya sama. mereka secara serempak membincangkan mengenai air. Aku menduga mereka membincangkan tentang pemanasan global. Makin hari perbincangan menjadi agak jelas, air yang dimaksud adalah air minum secara umum.

Lalu hari-hari berikutnya para tweeps tersebut lebih khusus membahas pentingnya minum air putih agar tetap fit. Sampai sekarang tweet-tweet tersebut belum/tidak menyebutkan satu brand pun.

Apakah cara berkampanye seperti itu cukup efektif sesuai goal brand tersebut? Entahlah. Beberapa produk lain beriklan dengan memakai hashtag (tanda pagar) tertentu yang sesuai dengan citra brand yang dikampanyekan.

Misalnya english first dengan #mystory-nya atau #aspartam untuk produk extrajoss, #bukasemangatbaru untuk sebuah produk minuman ringan atau #soimpressive untuk produk mobil.

Semua kampanye dilakukan secara samar-samar, sangat halus dan tidak vulgar. Sampai sekarang belum ada brand yang berkampanye di Twitter terus terang dengan menyebut produknya atau dengan #twitorial misalnya. Sehingga batas antara twit yang berbayar dengan yang informasi biasa menjadi kabur. Inilah yang membedakannya dengan iklan di media konvensional yang tegas-tegas menyebut advertorial atau webtorial.

Maraknya tweet berbayar ini memunculkan respon yang beragam, sebagian merasa terganggu. Alasannya, di Twitter yang hanya menyediakan 140 karakter itu sudah terlalu bising dengan tweet-tweet yang bermacam topik dengan tone yang berbeda.

Mulai dari yang serius semacam #kultwit atau yang menye-menye seperti #romantisitu-nya @adityasani. Memang kalau tidak suka tinggal unfollow, namun masalahnya tidak sesederhana itu. Meski sudah unfollow tetap saja mendapat Retweet-an.

Beberapa orang, terutama para buzzer (konsumen berbayar) tentu menyambut baik adanya program beriklan di social media ini. Karena dengan kekuatan follower yang dimiliki, mereka adalah orang pertama yang dilirik pemilik produk untuk memasarkan produknya. Bahkan tidak sedikit mereka yang tiba-tiba menjadi seleb dengan bayaran per tweet sangat tinggi.

Namun ada juga yang tegas-tegas menolak menjadi buzzer. Misalnya @blontankpoer. Alasannya, dia sangat menghormati semua followernya yang telah dengan suka rela setia mengikuti tweet-tweet yang ia sampaikan di garis waktu. Intinya ia tidak mau mengkomersialkan para followernya yang jumlahnya ribuan itu.

Bagi orang awam, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang membaca pesan pesanan. Seperti salah seorang follower @mumualoha yang dengan polosnya menanyakan apa itu tweet berbayar.  @mumualoha dengan serius lalu memberikan #kultwit. Menurutnya tweet berbayar adalah tweet atau pesan yang disampaikan sesuai dengan pesanan sponsor, bukan karena keinginannya sendiri.

Pengguna Twitter yang sampai sekarang mencapai 6,2 juta tentu merupakan space yang sangat efektif untuk beriklan. Para pemilik brand beramai-ramai masuk ke salah satu social media tersebut, meski beberapa masih sekedar formalitas. Beberapa brand meski sudah mempunyai akun di Twitter namun tak pernah berinteraksi dengan para pengguna produknya.

Dengan model kampanye seperti sekarang ini, bagaimana nasib tweet berbayar kelak? Mari kita tunggu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...