Page

Minggu, 13 Maret 2011

Apa Yang Membuat Harga Minyak Meroket?

Minggu lalu, diberitakan bahwa Komisi Perdagangan Kontrak Berjangka Komoditas (CFTC) menginvestigasi potensi manipulasi dalam pasar perdagangan minyak.

Ini hal yang bagus, walaupun CFTC sesungguhnya bukanlah regulator yang paling agresif. (Judy Dugan dari Consumer Watchdog berkata: "Di hadapannya, investigasi serupa dengan musang yang menginvestigasi berkurangnya jumlah ayam di kandang.")

Manipulasi pasar mungkin berkontribusi terhadap lonjakan harga minyak -- walaupun bahkan dalam kasus terburuk, ia hanyalah sebagian dari permasalahan. Faktor terpenting adalah persediaan dan permintaan: persediaan kesulitan memenuhi pertumbuhan permintaan yang berkelanjutan.


Apakah pada kenyataannya firma-firma dan pengelola investasi global (hedge funds) di Wall Street memanipulasi pasar minyak? Mungkin. Yang pasti terdapat cukup banyak konflik kepentingan dan ketiadaan regulasi yang memungkinkan aktivitas tersebut. Mereka bukanlah orang-orang yang memiliki riwayat (track record) yang terhormat.

Apakah spekulasi mendorong kenaikan harga, ini adalah masalah yang berbeda dari manipulasi. Investasi dolar mengalir ke dalam kontrak-kontrak berjangka, sehingga jelas mendorong harga naik. Ini mencerminkan persediaan dan permintaan kontrak-kontrak berjangka minyak sebagai alat investasi, melebihi persediaan dan permintaan terhadap minyak mentah yang sesungguhnya. Beberapa porsi kecil dari kenaikan harga baru-baru ini hampir bisa dipastikan disebabkan oleh aktivitas spekulatif ini, yang dipicu oleh leveraged buying (penggunaan uang pinjaman).


Pada akhir tahun 2007, dengan harga minyak sekitar $100 per barel (tingkat yang mengejutkan, hanya setengah tahun lalu), Jennifer Wedekind, kolega saya di Multinational Monitor, mewawancarai sekitar selusin analis minyak tentang harga minyak. Mereka berbeda pendapat dalam menjelaskan penyebab tingginya harga minyak sebesar $100, dengan beberapa mengakui bahwa spekulasi -- tapi bukan manipulasi -- memainkan peran dan lainnya dengan tegas menyangkalnya.

Di antara mereka yang menyatakan bahwa spekulasi cukup berperan adalah Linda Rafield, seorang analis minyak senior dari Platts: "Kami telah melihat pengelola investasi pasar mata uang, pengelola aset dan pengelola portfolio sudah pasti menginvestasikan uangnya dalam sektor komoditas, dan itu tentunya menaikkan harga-harga, karena kebanyakan dari orang-orang ini sudah terkenal melakukan perdagangan dengan melakukan pembelian untuk penjualan di masa depan (long side)." Yang menentang tuduhan bahwa spekulasi merupakan faktor adalah Jeff Rubin, pimpinan ahli ekonomi dan pimpinan ahli strategis, CIBC World Markets. Ketika ditanyakan faktor-faktor apa yang mengakibatkan lonjakan harga, ia berkata, "Pastinya bukan ketidakstabilan di Timur Tengah atau spekulasi atau apa yang disebut sebagai faktor-faktor geopolitik."

Enam bulan kemudian, sepertinya spekulasi menjadi semakin penting. Sangat sulit mengidentifikasi apa yang telah terjadi dalam setengah tahun ke belakang sehingga besar loncatan harga mencapai sepertiganya.

Faktor kunci kedua dalam kenaikan harga-harga adalah turunnya nilai mata uang dolar. Satu barel minyak pada hari ini bernilai satu barel juga di keesokan hari. Namun bila besok nilai mata uang dolar berkurang dibandingkan hari ini, maka nilai satu barel minyak dalam dolar akan lebih tinggi di esok hari. Di hadapan gabungan beberapa mata uang asing (a basket of currencies), mata uang dolar turun 25 persen sejak 2003, dan diperkirakan kejatuhannya lebih besar lagi dibandingkan puncaknya pada 2001.

Tapi, apa pun yang dijadikan penyebab harga saat ini, faktor terpenting dalam gambaran besarnya adalah persediaan dan permintaan.

Permintaan global tumbuh secara tetap berkat penggunaan minyak yang sangat meningkat di Cina, India dan Timur Tengah.

Persediaan global semakin menipis. Beberapa pihak berargumen bahwa ini dikarenakan dunia sedang atau mendekati "puncak produksi minyak," suatu titik balik ketika setengah jumlah minyak di dunia telah diekstraksi, dan hasil perolehannya mulai menurun, dengan berdampak sangat besar terhadap harga.

Pandangan lain tidak mudah menerima elemen apokaliptik dari teori puncak minyak. Dari sudut pandang ini, masih banyak minyak -- atau substitusi terdekatnya, seperti pasir tar atau karang -- tersedia, tapi lebih susah dan lebih mahal untuk diperoleh. Ini adalah pandangan yang dipilih oleh para analis industri minyak (banyak di antaranya mencatat bahwa sejumlah besar minyak yang secara teknologi mudah diperoleh - contohnya, di Iraq - sangat susah diperoleh karena alasan-alasan politik).

Dua-duanya, tantangan terhadap persediaan dikombinasikan dengan cepatnya peningkatan permintaan berarti bahwa dunia akan menyaksikan kenaikan harga secara tetap. Lebih lagi, persediaan yang sangat ketat akan tak terhindarkan lagi berujung pada lonjakan harga yang terlihat irasional dari pandangan dekat.

Menurut Charles Maxwell, analis energi senior di Weeden & Co: "Selama penggunaan kapasitas sistem produksi minyak mentah dunia beroperasi sebanyak 98 persen, seperti saat ini, dan selama mungkin satu setengah, 2 persen, yakni kelebihannya, berupa minyak mentah Saudi yang berat dan asam, yang tidak bisa digunakan oleh penyulingan yang tipikal ditemukan di Amerika -- mereka menggunakannya sebagian tapi tidak bisa lagi karena dampaknya sangat serius terhadap bagian dalam pipa-pipa ini dan seluruh penyulingan harus dihentikan untuk waktu yang lama dan memperbaiki semua pipa-pipanya -- kita akan mengalami kenaikan-kenaikan harga yang periodik seperti ini."

Maxwell menjelaskan: "Tiap sistem membutuhkan sedikit bantal yang mampu menopang di masa susah - faktor cuaca atau penghentian pasokan akibat pertimbangan politik atau pertarungan politik akibat perang saudara. Kita tak memiliki bantal yang cukup untuk sistem ini. Biasanya, kapasitas panggunaan dinilai ideal sekitar 94 hingga 95 persen. Jadi kapasitas penggunaan sebesar 98 persen berada di atasnya dan kita tak dapat menurunkannya, karena membutuhkan 5 hingga 7 tahun untuk melaksanakan itu dan saat ini kita tidak membelanjakan uang yang akan mengeluarkan kita dari 5 hingga 7 tahun itu."

Jadi, lakukanlah segalanya, teruskan investigasi secara tegas terhadap manipulasi pasar, dan katakan ya terhadap peregulasian kembali pasar-pasar minyak yang kini terlalu terfinansialisasi dan tercerabut dari jual beli minyak yang nyata.

Tapi tantangan persediaan-permintaan yang dihadapi dunia jauh lebih serius dari faktor-faktor spekulatif dan lainnya yang berkontribusi terhadap kenaikan harga.

Susah membayangkan mengapa Amerika Serikat -- atau dunia -- akan membutuhkan lebih banyak insentif, bukannya merespon perubahan iklim dengan berinvestasi pada sumber daya yang dapat diperbaharui, memandatkan standar efisiensi yang lebih ketat untuk mobil dan beralih dari mesin pembakaran internal, dan secara massif menggalakkan transportasi publik. Tapi skenario kiamat perubahan iklim, sejauh ini, tak terbukti cukup. Mungkin prospek minyak $200/barel bisa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...